Selasa, 26 September 2017

Kades Sukaharja Kecamatan Cijeruk Bersama Warga Lanjutkan Pembukaan Jalan Lintas 2 Kampung Melintasi


www.bidiknusantara.com
Setelah dilakukan pembukaan jalan yang melintasi gunung sepanjang 1,5 kilometer dengan lebar antara 3 sampai dengan 4 meter untuk menghubungkan dua kampung dan dua RW yaitu Kampung Pasir Tengah dan Kampung Tapos Desa Sukaharja Kabupaten Bogor pada tahun 2014 lalu yang didahului dengan pembangunan Jembatan Cikaracak menggunakan anggaran Bantuan Provinsi (Banprove) Jawa Barat (Jabar) tahun 2014.
 
Hari minggu tanggal 16 Januari 2016 Kades Sukaharja, Santoso kembali melanjutkan pemabngunan jalan tersebut dengan bantuan sekitar 200 warga untuk bergotomg royong guna menlanjutkan pembangunan jalan tersebut, seluruh warga dalam kesempatan tersebut bahu membahu memasang dan membelah batu untuk material dasar jalan tersebut karena jalan tersebut awalnya merupakan jalan setapak yang diubah menjadi jalan yang layak dilalui kendaraan roda empat yang bertujuang untuk mempersingkat jarak tempung masyarakat di dua kampung karena selama ini kedua kampung tersebut terisolir dan ketika hendak melakukan aktivitas harus berputar bila menggunakan kendaraan serta bila berjalan kaki harus melalui jalan setapak untuk mengangkut hasiol pertanian diwilayah tersebut.
 
 
"Dengan dibangunnya jalan ini, silaturahmi antar dua kamp[ung bisa lebih singkat karena tidak harus memutar terlalu jauh bila menggunakan kendaraan, disampingh itu hasil bumi dari para petani diwilayah tersebut akan lebih cepat terangkut bila jalan ini kondisinya memadai dan bisa dilalui kendaraan roda empat,"tutur Santoso Ke[pada Biduik Nusantara saat di jumpai dikediamannya usai melaksanakan kerja bhakti bersama warga yang didampingi Ketua BPD, LPM dan Babinsa Sukahrja.
 
Oleh Karena itu katanya, pemnamgunan jalan yang rencananya akan diberi nama Jalan Sangkuriang ini sangat bermanfaat nagi masyarakat un tuk menunjang perekonomian masyarakat terutama bongkar muat hasil bumi, karena kawasan yang dilalui sepanjang jalan ini merupakan lahan pertanian masyarakat dengan berbagai komoditi. 
 
"Saya sudah menyampaikan kepada masyarakat tadi bahwa untuk pembangunan jalan ini tidak masuka dalam APBDes Sukaharja baik tahun anggaran 2016, 2017 dan seterusnya dan anggaran untuk pembangunan jalan ini menguunakan  murni dari partisipasi masyarakat dan anggaran pribadi saya,"jelasnya.
 
Menurutnya, kenapa pembangunan jalan tersebut tidak masuk daftar kebutuhan APBDes Sukaharja karena selain jalan ini terdapat 6 titik jalan desa yang jharus dibangun termasuk membuka jalan baru yang menggunakan APBdes tahun 2016 dan seterusnya dengan rencana kebutuhan Miliaran Rupiah.
 
"Untuk membangun jalan ini saja dibutuhkan anggaran sekitar Rp 3 Miliar belum termasuk rencana pembangunan jalan lain, jadi Desa Sukaharja membutuhkan anggaran lebih kurang Rp.6 Miliar untuk kebutuhan pembangunan jalan belum termasuk jalan lingkungan,"paparnya.
 
Maka dari itu ungkapnya, untuk merealisasikan pembangunan jalan ini dirinya mengajak partisipasi aktif masyarakat agar sama-sama melaksanakan kerja bhakti  secara gotong royong sehingga dapat menekan kebutuhan anggaran dan pembangunan jalanpun cepat selesai.
 
"Alhamdulillah warga saya sangat antusias ketika di ajak bersama-sama melaksanakan pembangunan jalan ini, ini merupakan sebuah bukti bahwa masyarakat Desa Sukaharja tingkat kepedulian dan jiwa gotong ronyong masih sangat tinggi,"tuturnya penuh bangga.
 
Lanjut Santoso memaparkan, bila hanya mengandalkan bantuan pemerintah maka pembangunan jalan ini tidak akan selesai dan bahkan terbengkalai karena masih banyak kebutuhan diwilayah lain yang juga harus dipenuhi dalam hal pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, posyandu maupun insfratruktur penunjang lainnya.
 
"Untuk memenuhi kebutuhan anggarannya nanti sama-sama kita pikirkan bersama perangkat desa baik LPM dan BPD yang terpenting saat ini masyarakat Desa Sukaharja sudah mau memberikan subangsih tenaga dan pemikiran sehingga segala program yang nanti diluncurkan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,"pungkasnya.

Sabtu, 09 September 2017

Jadi Tempat Studi Banding, Dikunjungi 40 Kades Serdang Bedagai

Keberhasilan Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk dalam mengelo­la Dana Desa (DD), ternyata mencuri perhatian 40 kepala desa di Kabu­paten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Mereka ber­bondong-bondong mendatangi Desa Sukaharja untuk belajar mengelola DD dengan transparan.

METROPOLITAN – Kehadiran 40 kades tersebut didampingi Komisi A DPRD Kabupaten Serdang Be­dagai bidang pemerintahan. Mereka studi banding untuk mengimplementa­sikan Undang-Undang Desa No 6 Tahun 2014 tentang Desa, khususnya tentang pengelolaan DD.

“Kami mengapresiasi para kepala desa dan anggota dewan dari Serdang Beda­gai yang studi banding di Desa Suka­harja. Kami akan membahas tentang DD di Desa Sukaharja dan kami akan berikan informasi mengenai DD yang kami guna­kan. Kami juga akan terangkan DD yang kami gunakan secara penuh transparan dan keterbukaan kepada publik,” ujar Kepala Desa Sukaharja Santoso kepada wartawan, kemarin

Sebagai pemimpin, Santoso siap mem­buka diri, dikritik dan juga siap mendengar apa yang diinginkan masyarakat. Risiko apa pun harus siap dihadapi pemimpin, khususnya kepala desa. Sebagai ujung tombak pengguna DD di masyarakat, bagaimana caranya anggaran alokasi DD maupun DD harus digunakan sebaik mun­gkin untuk masyarakat. “Cukup atau tidak, dana tersebut sudah risiko kita. Sebab kita memimpin desa harus siap dengan risiko apa pun. Baik jeleknya kita harus terima, yang terpenting pembangunan di desa jalan terus. Selain itu, saya juga lebih takut dihujat masyarakat daripada oleh pemerintah atau media. Tugas pe­mimpin itu berat, makanya kita harus amanah dalam memimpin,” tutupnya yang akan mencalonkan diri jadi bupati 2018 nanti.

Sementara Kepala Desa dari Serdang Bedagai Yusup Barus berjanji apa yang didapatnya dari Desa Sukaharja akan dip­raktikkan di desa yang ia pimpin. “Sangat luar bisa pembangunan di Desa Sukaharja. Di desa ini semangat gotong-royongnya sangat tinggi. DD digunakan semaksimal mungkin dan banyak sekali swadayanya. Saya akan coba praktikkan di desa saya,” pungkasnya.
(nto/b/sal/run)

Kades Sukaharja Santoso: Linmas dalam Sudut Pandang Nawacita

Kades Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Santoso, yang juga merupakan ketua Paguyuban Linmas Kabupaten Bogor, menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap lembaga Perlindungan Masyarakat (LINMAS) yang peranannya penting untuk menjaga keamanan masyarakat, khususnya di desa

. Ia menyandingkan agenda prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo, yaitu Nawa Cita, dengan realitas LINMAS di masa kini. Berikut surat terbukanya:

Nawacita 1: “
MenghadirÄ·an kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara Indonesia yang dilandasi rasa keadilan”
Hal ini ternyata hanya slogan buat linmas itu sendiri, kenapa? Karena kebanggaan dirinya tidak pernah tercermin pada keluarganya, adakah anak-anak dari linmas mau dan siap meneruskan pekerjaan seperti bapaknya sekarang, tidak seperti anak dokter yang bangga akan jadi dokter, anak guru yang akan menjadi guru, anak polisi yang akan jadi polisi, anak pengusaha yang menjadi pengusaha, dan seterusnya. Dalam pekerjaan Linmas, tak ada kebanggaan untuk itu, dan negara harus hadir untuk itu.

Nawacita2: “
 Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya”
Pemerintah absen dalam hal pengurusan linmas, karena sampai saat ini keberadaan linmas itu hanya dipakai obyek penderita, yaitu bila dibutuhkan mereka dipanggil dan diperkerjakan, dan bila tidak dibutuhkan mereka melepaskannya, serta dilupakan, akhirnya mereka bingung untuk cari pekerjaan lain. Menyedihkan, mulai saat ini pemerintah harus serius untuk mengurus linmas dan meningkatkan kemampuan serta pelatihan dalam perlindungan masyarakat dan bisa juga dipersiapkan untuk perlindungan bela negara. Dengan kata lain, pemerintah masa lalu tak pernah serius mengurus linmas itu, dimana banyaknya ormas terbentuk dan lahir tanpa terkendali sehingga banyak ormas-ormas yang terprogram lahir di seluruh wilayah NKRI, dan banyak benturan dengan
pihak keamanan, karena ketidakpedulian pemerintah masa lalu kepada linmas. Zholim kah pemerintah?

Nawacita 3:
“Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”
Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat jati diri linmas di desa-desa, perlu adanya restorasi baru linmas kedepan, yang implementasinya harus jelas buat kesejahteraan linmas itu sendiri. Pemerintah harus hadir di tengah keberadaan linmas itu sendiri, sehingga ada kebanggaan pada keluarga besar linmas. Insya Allah putra-putri linmas ada yang bisa jadi pemimpin di desa, atau di negeri ini. Cintai Linmas Dengan Segala Solusinya
.
Nawacita 4 :
“Menolak negara lemah dengan melakukan repormasi sistim dan penegakan hukumyang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya”
Untuk itu mulai tahun 2016, daripada uang negara tidak jelas dan raib entah kemana tak jelas arah, pemerintah sebaiknya anggarkan Rp. 1 trilyun per tahun untuk tunjangan linmas di 70.542 desa sehingga pemerintah benar hadir di tengah linmas itu sendiri.

Nawacita 5:
 “Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program Indonesia Sejahtera…”
Dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019, kami atas nama ketua paguyuban linmas kabupaten Bogor sangat mendukung semua rencana besar pemerintah untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia dan di dalam Linmas dan keluarga besarnya yang selalu siap bela negara, kapanpun itu!

Nawacita6:
“Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa bangsa Asia lainnya”
Keberadaan linmas akan hadir untuk mengawal dan mengamankan peningkatan produktifitas masyarakat di wilayah dimana mereka berada.

Nawacita
 7: “Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor sektor strategis”
Linmas akan selalu hadir di dalam pengawalan ekonomi rakyat diwilayah dimana sektor strategis itu berada, linmas siap kapanpun bila dibutuhkan dengan dibekali keterampilan dan pelatihan yang sudah diprogram oleh pemerintah.

Nawacita 8:
“Melakukan revolusi mental dan karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proposional aspek pendidikan seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cintah tanah air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan”
Untuk revolusi mental, para pemimpin negeri harus segera mengembalikan lagi keberadaan linmas yang sangat amat dibutuhkan masyarakat. Walau saat itu linmas kurang diperhatikan pada pemerintah masa lalu, ayo kerja dan linmas siap kerja, itu motto negeri ini.

Nawacita 9:
 “Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang dialog antar warga”
Disini linmas selalu hadir dalam menciptakan suasana kondusif wilayah dimana ruang dialog itu terjadi. Pada prinsipnya linmas menjaga suasana lebih aman, insya Allah. CINTAI LINMAS DENGAN SEGALA SOLUSINYA, INSYA ALLAH NEGERI AMAN DAN TENTRAM, DAN LINMAS SIAP BELA NEGARA.

Kades Sukaharja Gelar Tablig Akbar

Desa Sukaharja menggelar tablig akbar ”Gunung Salak Bersalawat” dengan mengun­dang 80 habib dan kiai dari berbagai daerah termasuk Solo dan Jakarta. Gelaran tablig akbar ini akan dilangs­ungkan selama dua hari tiga malam di halaman Kantor Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk dan melibatkan semua unsur. Di antaranya, Nahdlatul Ulama (NU), Wahabi, Syiah dan Islam tradisional.

 KEGIATAN ini diprakarsai Kepala Desa (Kades) Sukaharja Santoso beserta jaja­rannya yang berkoordinasi dengan para tokoh agama dan Majelis Ulama Indo­nesia (MUI) setempat
.
Santoso mengatakan, di Desa Suka­harja terdapat beberapa golongan umat yang memperingati Isra Mi’raj. “Mereka semua kita akomodasi tanpa melihat golongan umatnya. Yang terpenting keadaan umat Islam di desa ini kondusif dan tidak saling mengganggu dalam ak­tivitas keagamaan masing-masing,” ka­tanya kepada Metropolitan.

Santoso menambahkan tingkat kondu­sivitas desa sangat diperlukan karena warga dapat melaksanakan kegiatan apa pun dengan tenang dan tidak menim­bulkan gejolak. ”Biarkan umat muslim yang ada di sini beribadah dengan tenang dan tidak saling mengusik,” ujarnya
.
Tokoh pemuda setempat Muhamad Ba­darudin, mengapresiasi acara tablig akbar ini dan berharap toleransi umat Islam di desanya terjaga baik. ”Kades berperan penting dalam menjaga toleransi desa ini sehingga tidak ada gesekan antarumat dan dapat beribadah dengan tenang sesuai akidahnya masing-masing,” bebernya.
Dia juga tidak mempermasalahkan per­bedaan pandangan umat yang ada ling­kunganya. “

Berbeda tidak apa-apa, namun jangan saling mengusik agar masyarakat dapat beribadah dengan tenang, aman dan damai, mudah-mudahan terjaga te­rus,” tutupnya. (nto/b/suf/dit)

Empat Milyar Pertahun Untuk Dana Desa

Bogor, Kabarpasundan.com – Langkah Santoso, Kepala Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor untuk melangkah menjadi Bupati Bogor bukan tanpa alasan, ia akan memberikan dana desa empat milyar pertahun, satu milyar pertriwulan.

“Memanfaatkan potensi daerah adalah andalan pemerintah. Dari mulai industri, SDA, semua bisa diperdayakan,” ungkap Santoso, dalam obrolan santai di Cibinong (7/10/16)
Bukan hanya dana desa, RT dan RW pun menurut Santoso bisa bergaji satu juta perbulan.
“Kalau semua potensi diberdayakan, tidak ada lagi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), tidak ada lagi pengangguran, tidak ada lagi BPJS, tidak ada lagi ketimpangan sosial,” kata Santoso lagi.

Santoso yakin, bila  dipimpin oleh pemimpin yang visioner, akan dapat mensejahterakan rakyat Bogor.
“Pemimpin itu harus berpikir cepat, bertindak tepat,” kata Santoso.
Seperti apakah gagasan program Kades yang penuh dengan kematangan untuk maju menjadi calon Bupati Bogor ini?

“Semua bisa dilakukan secara sistemik, Karena desa saya adalah desa percontohan. Sudah dikunjungi kementerian, 44 deputi, dan 34 kepala BPMPD provinsi,” kata Santoso.
Bukan hanya itu, 80 Kades Sumatera Utara pun pernah studi banding ke Desa Sukaharja, tentang UUD No.6, mengenai relevansi dana desa.

“Desa saya adalah desa yang mendapatkan ISO 90001 2008, mengenai pelayanan mutu terbaik, tercepat, termurah, termudah yang pertama di Kabupaten Bogor, dan pertama di provinsi Jabar,” jelas Santoso.(GR)

Minggu, 03 September 2017

Desa Sukaharja Raih Peringkat Desa Terbaik dalam Monev Kesra



BOGOR (KM) – Monitoring dan evaluasi (monev) kesejahteraan rakyat (kesra) yang diadakan di desa Sukaharja, kecamatan Cijeruk, dihadiri oleh sejumlah pejabat kabupaten dan kecamatan dan dari unsur PKB Kecamatan.

Acara monev itu di buka oleh kades Sukaharja, Santoso. Dalam monev itu, desa Sukaharja mendapat peringkat pelayanan terbaik, terbuka dan transparan. “Keperluan apapun [bagi desa] Sukaharja, akan di tunjang,” ujarnya.

Pihak PKK kabupaten Bogor juga menambahkan bahwa Desa Sukaharja mendapat penghargaan desa terbaik dalam segi upaya mensejahterakan keluarga. “Desa Sukaharja mendapatkan peringkat terbaik se-kabupaten Bogor,” ucapnya.
“Programnya harus di tingkatkan lagi [agar] mendapatkan peringkat terbaik se-kabupaten Bogor dan juara nasional,” tambahnya.

Adapun camat Cijeruk, Hidayat, menyampaikan agar kegiatan ibu-ibu PKK berjalan sesuai apa yang diharapkan dari desa Sukaharja.

Kades Santoso juga menambahkan bahwa dirinya mengeluarkan dana pribadi untuk membuat film “Kampung KB” sebagai bentuk penyuluhan kepada masyarakat desa Sukaharja tentang program Keluarga Berencana (KB). (man/marno)

Ratusan Warga Desa Sukaharja Cijeruk Padati Sholawat dan Dzikir Bersama di Kantor Desa

BOGOR (KM) – Minggu malam, ratusan warga Pondok Bitung berkumpul di halaman kantor DesaSukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, untuk mengikuti sholawat dan dzikir bersama yang  diselenggarakan pemerintah Desa Sukaharja, Minggu (02/04/2017).
Acara yang diprakarsai oleh Kepala Desa Sukaharja tersebut dihadiri sejumlah ulama setempat seperti Habib Hasan, Habib Asmi Al Idrus, Habib Husein, dan ketua BBRP Zona 4 H. Atma Wirya, Ketua umum Nindora Bambang Saputro dan ketua umum Padepokan Bango Putih, Ape Sapei.
“Semoga sholawat bersama malam hari ini mendapatkan ridho Allah SWT dan terima kasih kepada semua pihak yang  telah membantu sehingga sholawat bersama ini dapat berjalan lancar,” ujar Kepala Desa Sukaharja Santoso kepada kupasmerdeka.com.

Dalam siraman rohaninya, Habib Asmi Al Idrus mengungkapkan bahwa “di zaman yang sudah tua dan penuh dengan fitnah ini agar umat Islam banyak bersholawat untuk bangsa dan negara. Agar bangsa ini tidak tercabik-cabik dan terbelah.”

“Sholawat malam ini merupakan hikmah agar silaturahmi antar Muslim di Desa Sukaharja semakin baik dan dimudahkan rezekinya, Amin ya robbal alamin,” imbuhnya.
Sementara itu, Habib Jafar Bin Bagir dari Pondok Pesantren Al Idrus dalam tausiahnya menyampaikan bahwa kehidupan di dunia ini hanya singgah, untuk itu perbanyaklah menanam amal kebaikan dan beribadah untuk bekal kita mati.

“Bersihkan hatimu dengan bertasbih dan perbanyaklah bersedekah dengan ikhlas agar kita mati dlm keadaan beriman.” terang Habib Jafar.
Lebih lanjut, Habib Jafar menjelaskan, manusia yang paling baik di hadapan Allah SWT bukan seorang Kyai, Ustadz, Presiden ataupun Jenderal, tapi orang yang baik dihadapan Allah SWT adalah orang yang hidupnya bisa bermanfaat untuk orang banyak, bukan memanfaatkan orang banyak.
“Jangan tinggalkan shalat subuh dan shalatlah 2 rokaat sebelum shalat subuh, Insya Allah dunia akan mengejar kita bukan kita yang mengejar dunia.

 Semoga jama’ah yang hadir dalam sholawat malam ini senantiasa dipagari, dibentengi, dan diridhoi serta apa yang diminta dikabulkan Allah SWT. Amin,” pungkasnya mengingatkan.
Reporter : Budi
Editor : TBJ

Kantongi 150 Ribu Dukungan, Kades Ini Niat Jadi Bupati Bogor


BOGOR DAILY- Pemilihan Bupati (Pilbup) Bogor 2018 diprediksi bakal diramaikan oleh calon independen. Senin (27/3), Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bogor kembali didatangi calon perseorangan yang berencana maju di Pilbup Bogor. Santoso, saat ini menjabat Kepala Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, mengaku hingga saat ini dirinya telah memiliki 150.000 fotocopy sebagai bentuk dukungan masyarakat.
Santoso menjelaskan, ia merasa mengenal wilayah dan masalah di Kabupaten Bogor. Atas dasar itu, lelaki kelahiran Jakarta 1962 ini termotivasi ikut bertarung dipesta demokrasi lima tahunan yang akan datang.
“Pada prinsipnya alasan itu yang memunculkan keinginan untuk maju. Saat ini sudah sekitar 150.000 dukungan sudah terkumpul. Jadi tinggal kurang dari setengahnya lagi untuk memenuhi syarat minimal dukungan untuk calon perseorangan,” kata Santoso.
Sebagai bentuk kesiapan, Santoso juga telah memiliki relawan yang disebut Sahabat Santoso di 40 kecamatan di Kabupaten Bogor. Bahkan, dirinya telah mencetak berbagai atribut seperti banner, kalender, stiker dan lainnya untuk memudahkan sosialisasi kepada masyarakat.

Saya niat dan berusaha semaksimal mungkin untuk Pilbup 2018 nanti dan ikut memberi kontribusi untuk Kabupaten Bogor. Dalam waktu dekat kami juga akan menggelar agenda yang akan dihadiri ribuan massa,” terangnya.
Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Bogor Haryanto Surbakti mengatakan, hingga saat ini sudah sekitar 10 orang termasuk Santoso yang mengambil formulir dukungan untuk calon perseorangan. Sesuai atruan, calon perseorangan harus memiliki minimal dukungan 6,5 persen dari jumlah pemilih jika ingin lolos sebagai bakal calon.
“Minimal dukungan suara untuk calon perseorangan di Kabupaten Bogor adalah 215.731. dukungan harus tersebar di lebih dari 50 persen jumlah kecamatan yang ada. Nantinya KPU akan melakukan verifikasi dukungan ini dan yang lolos bisa ikut mendaftar saat pembukaan pendaftaran bersama bakal calon dari partai,” tandas Haryanto. (bd)

Pendukung Santoso Sebagai Calon Bupati Bogor Terus Bertambah

KAB. BOGOR - Dukungan dari berbagai kalangan untuk Kepala Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Santoso sebagai ...